Jeruk “Makan” Jeruk di Musi Banyuasin: Saat Polisi Setoran ke Polisi

Penulis Artikel : Ari Junaedi , Akademisi dan konsultan komunikasi

Menagih janji potong kepala ikan busuk

Komitmen Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk menindak tegas kelakuan “miring” anak buahnya telah terbukti bisa membalikkan pameo jika “jeruk sesama jeruk” akan saling melindungi.

Kasus penembakan Brigadir Yosua menyeret puluhan personel Polri. Tidak hanya Irjen Ferdy Sambo, tetapi juga bekas Kepala Detasemen A Biro Pengamanan Internal Divpropam Polri Kombes Agus Nurpatria, mantan Kasubbag Riksa Baggak Etika Rowabprof Divpropam Polri Kompol Baiquni Wibowo dan bekas Kasubbagaudit Baggaketika Rowabprof Divpropam Polri Kompol Chuck Putranto telah dipecat alias pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) terkait kasus pembunuhan Brigadir Yosua. Menyusul berikutnya dengan tuduhan berat obstruction of justice yang biasanya berakhir dengan PTDH, Brigjen Pol Hendra Kurniawan selaku mantan Karo Paminal Propam, bekas Wakaden B Ropaminal Divpropam Polri AKBP Arif Rahman dan mantan Kasubnit I Subdit III Dittpidum Bareskrim Polri AKP Irfan Widyanto juga menunggu persidangan Komisi Kode Etik.

Jika untuk selevel jenderal polisi bintang dua, institusi Polri berani memecat tegas, tentu seorang kapolri tidak akan sudi hanya “melindungi” atasan AKBP Dalizon yang disebut-sebut di persidangan Pengadilan Negeri Tipikor Palembang.

Nama Kombes Pol Anton Setiawan yang kerap disebut Dalizon telah menerima setoran sebanyak Rp 4,75 miliar, sementara tiga personel dengan posisi kepala unit di Ditreskrimsus Polda Sumsel masing-masing Rp 750 juta. Kini Kombes Anton Setiawan telah dimutasi di Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri

Menurut analisis saya, besar kemungkinan Propam Mabes Polri akan bergerak menindaklanjuti kasus upeti “jeruk makan jeruk” dari Musi Banyuasin usai persidangan Dalizon menjadi semakin terang benderang. Kini saatnya Polri membersihkan institusinya dan membuktikan tekad serta komitmen Kapolri untuk memotong ikan busuk berpangkal dari kepala ikan tidak sekedar lips service belaka.

Jika kasus “jeruk makan jeruk” Musi Banyuasin hanya berakhir sebatas “nyanyian” sumbang Dalizon saja dan melindungi atasan Dalizon, maka apatisme publik terhadap korps Bhayangkara akan terus meningkat. Sakali lagi jangan seperti bau kentut, kasus setor menyetor di jajaran Polri sudah bukan rahasia umum lagi dan harus berani dibelejeti. Tidak peduli setiap bulan dibuat film seperti “Sayap-sayap Patah” yang menjagokan seorang polisi idealis, tapi akhirnya gugur berkalang tanah, kepercayaan publik terhadap institusi Polri tidak bisa dibangun hanya dengan proses “ujug-ujug”.

Membangun citra Polri adalah keteguhan para pimpinannnya untuk memberi contoh keteladanan dan sikap anak buahnya yang kebal dari sogok. Tidak semua personel Polri berlaku “njelehi dan brengsek”, justru lebih banyak yang polisi yang baik dan berkelakuan terpuji di masyarakat.

Dari info teman-teman di Polri, keberanian Kapolri dan pimpinan Polri yang lain dalam mengungkap kasus Ferdy Sambo justru sangat diapresiasi dari kalangan internal. Kerajaan Sambo dengan Satgasusnya begitu merajalela selama ini, tanpa ada yang berani menindaknya.

Kasus Sambo menjadi kotak pandora bahwa Polri telah berubah walau sekarang ini baru tahap “start”. Lebih baik berani “membuang” anggota yang jelek ketimbang harus mempertahankan personel yang bejat. Hilangnya puluhan jabatan personel yang terkait kasus Sambo akhirnya membuka jalan terjadinya rotasi dan promosi para perwira yang selama ini mengalami stagnasi jabatan dan karir.

Saya jadi teringat dengan mendiang kedua kakek saya yang pernah berdinas di Mobil Brigade (nama sebelum Brimob) di Malang, Jawa Timur. Walau berpangkat rendahan, kakek saya tidak minder dengan ada dan tidak adanya bintang di pundak. Kakek saya justru risau jika tidak ada teladan yang bisa ditinggalkan untuk anak keturunannya nanti. Kakek saya tidak bisa kaya karena menjadi polisi, tetapi kakek saya begitu bangga menjadi polisi yang baik dan jujur.

Saya percaya, suatu saat pernyataan Presiden ke-4 Indonesia Abdurrahman Wahid mengenai polisi pasti akan mengalami revisi. Jika Gus Dur pernah berujar,”Di negeri ini hanya ada tiga polisi yang jujur. Pertama, patung polisi. Kedua, polisi tidur. Dan ketiga, polisi Hoegeng (mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Imam Santoso),” maka suatu ketika akan ada lagi tambahan polisi jujur: polisi di eranya Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Semoga

Penulis artikel : Ari Junaedi
Akademisi dan konsultan komunikasi, Doktor komunikasi politik & Direktur Lembaga Kajian Politik Nusakom Pratama.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Jeruk “Makan” Jeruk di Musi Banyuasin: Saat Polisi Setoran ke Polisiz”
Sumber : Kompas.com (Naskah Berita Asli)

Viral, Istri Grebek Suami di Rumah Pelakor di Mojokerto, Ini Link Videonya

Baca juga :