Harga BBM Pasti Naik! Jokowi Sebut APBN Tak Bisa Selamanya Tanggung Beban

Belanja subsidi bahan bakar minyak (BBM), LPG 3 kilogram dan tarif listrik di bawah 3.000 VA bengkak. Belanja subsidi pada tahun ini mencapai Rp 578,1 triliun, jauh lebih tinggi dari yang sebelumnya ditetapkan.

Pembengkakan subsidi gaji tak lepas dari keputusan pemerintah untuk tetap menahan harga bensin subsidi di tengah kenaikan harga minyak dunia. Namun, kas keuangan negara tidak bisa terus-terusan menanggung beban tersebut.

Hal tersebut dikemukakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat memberikan pengarahan dalam Puncak Hari Keluarga Nasional ke 29 di Medan yang disiarkan Youtube Sekretariat Presiden, seperti dikutip Jumat (8/7/2022)

“[APBN] kita masih kuat, dan kita berdoa supaya APBN tetap masih kuat bersubsidi,” kata Jokowi.

Jokowi mengatakan, harga minyak sebelum pandemi hanya US$ 60. Namun saat ini, harga minyak brent mencapai US$ 100 per barel, sementara WTI justru US$ 98,4 per barel. Sejumlah negara pun mau tak mau mengerek harga bensin.

“Kita ini masih tahan untuk tidak menaikkan yang namanya Pertalite. Negara lain yang namanya BBM, bensin sudah di angka Rp 31 ribu, di Jerman, Singapura Rp 31 ribu, Thailand Rp 20 ribu, kita masih Rp 7.650 karena disubsidi BBM,” kata Jokowi.

Jokowi mengetahui bahwa kenaikan harga BBM tidak akan membuat senang masyarakat. Namun, Jokowi menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami apabila pemerintah tiba-tiba menaikkan harga BBM.

“Semua akan ngomong tidak setuju [dengan kenaikan BBM]. Tapi ingat, kita itu masih impor separo dari kebutuhan [BBM] kita 1,5 juta barel minyak dari luar, masih impor. Artinya apa? Kalau harga di luar naik, kita harus bayar lebih banyak. Supaya kita ngerti masalah ini,” tegasnya.(tim/Sam)

Viral, Istri Grebek Suami di Rumah Pelakor di Mojokerto, Ini Link Videonya

Baca juga :